HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN PENGUASAAN BAHASA PADA MASYARAKAT KETURUNAN CINA DI SURAKARTA
Oleh:
Markhamah
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP-UMS
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara pendidikan dengan penguasaan bahasa. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan bahasa pengantar Hwa Yu dan Belanda dengan penguasaan bahasa peserta didik. Sebagian besar penutur (selain LKCD) yang menguasai BJK memperoleh pendidikan BJ dari orang tuanya.
Kata kunci: pendidikan, penguasaan bahasa, dan pemerolehan bahasa.
Sumber:
Markhamah. 2002. “Hubungan Pendidikan Dengan Penguasaan Bahasa Pada Masayarakat Keturunan Cina Di Surakarta”. Varidika. Vol.14, No.24.
Reproduksi bacaan:
HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN PENGUASAAN BAHASA PADA MASYARAKAT KETURUNAN CINA DI SURAKARTA
Dalam penelitian tersebut bertujuan menjelaskan hubungan antara pendidikan dengan penguasaan bahasa. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal dan nonformal yang meliputi pendidikan di sekolah, keluarga (orang tua), dan di masyarakat. Pendidikan di sekolah yaitu dengan bahasa pengantar yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Kemudian pendidikan keluarga (orang tua) dan masyarakat yaitu dengan penggunaan bahasa tersebut dalam keseharian. Peguasaan bahasa dalam hal ini meliputi pengaruh penguasaan bahasa Hwa Yu dan Belanda terhadap Bahasa Jawa Krama (bahasa Jawa Halus) dan Bahasa Jawa.
Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka. Wawancara tersebut dilakukan dengan orang-orang keturunan cina dengan rincian sebagai berikut.
1. Perempuan Keturunan Cina Dewasa (PKCD) sejumlah 25 orang
2. Laki-laki Keturunan Cina Dewasa (LKCD) sejumlah 25 orang
3. Laki-laki Keturunan Cina Dewasa (LKCD) sejumlah 15 orang
4. Perempuan Keturunan Cina Remaja (PKCD) sejumlah 15 orang
Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Penjelasan hubungan antara pendidikan dengan penguasaan bahasa dilakukan dengan hubungan sebab-akibat. Kemudian kesimpulan ditentukan dengan penalaran induktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik memperoleh pendidikan bahasa melalui pendidikan yang ditempuh dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi kemudian kemampuan yang diperoleh dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat. Pendidikan tersebut termasuk di lembaga pendidikan yang dikelola oleh komunitas Cina. Dengan demikian bahasa apabila tidak digunakan maka tidak akan berkembang bahkan semakin memudar terhadap bahasa yang bersangkutan.
Kemampuan dalam Bahasa Jawa (BJ) peserta didik sebagian besar diperoleh di pendidikan formal karena kebanyakan orang tua tidak menguasai Bahasa Jawa Krama (BJK). Untuk keturunan Cina generasi kedua kurang menyukai penggunaan Bahasa Jawa Krama (BJK) dalam pengantar pendidikan formal karena ikatan dengan kebudayaan dengan leluhurnya masih kuat.
Pengelola pendidikan dengan menggunakan bahasa tertentu berpengaruh terhadap penguasaan bahasa peserta didik. Sehingga peran orang tu sangat besar terhadap penguasaan Bahasa Jawa khususnya Bahasa Jawa Krama karena pendidikan formal saja tidak cukup.
Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan hubungan antara penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan bahasa pengantar Hwa Yu dan Belanda dengan penguasaan bahasa peserta didik. Sebagian besar penutur (selain LKCD) yang menguasai BJK memperoleh pendidikan BJ dari orang tuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar